Nama:TRIAH ANJAR AUGUSTIN
Kelompok: 14 HYPOTALAMUS
Masalah yang Saya Alami di Awal Menjadi Mahasiswa Baru
Memulai kehidupan sebagai mahasiswa baru benar-benar membawa banyak
perubahan dalam hidup saya. Semua terasa berbeda—mulai dari suasana kampus,
cara belajar, sampai tuntutan akademiknya. Di masa awal ini, saya sering kali
merasa kewalahan karena harus menyesuaikan diri dengan banyak hal sekaligus.
Ada beberapa masalah yang saya alami dan cukup mempengaruhi kondisi mental
serta hubungan saya dengan keluarga. Tiga hal yang paling terasa bagi saya
adalah menumpuknya tugas, pikiran yang berantakan karena banyak tekanan, dan
emosi yang tidak stabil sampai membuat saya tidak sengaja membentak orang tua.
1. Tugas Kuliah yang Menumpuk dan Membuat Saya Kewalahan
Masalah pertama yang benar-benar membuat saya stres adalah banyaknya tugas yang
datang hampir bersamaan. Sebagai mahasiswa baru, saya belum terbiasa dengan
sistem penugasan kuliah yang intens. Dalam seminggu saja, saya bisa dapat tugas
bacaan, laporan, presentasi, dan persiapan kuis sekaligus. Rasanya semua datang
tanpa henti, dan setiap tugas punya tuntutan yang berbeda-beda.
Selain itu, kemampuan saya dalam mengatur waktu masih belum terbentuk dengan baik. Saya sering menunda tugas karena merasa masih ada waktu, tetapi akhirnya menyesal karena semua deadline menumpuk di akhir. Ketika semuanya sudah dekat waktunya, saya mulai panik sendiri. Untuk mengatasi hal ini, saya mencoba mulai menata jadwal dengan mencatat tugas-tugas yang harus diselesaikan. Saya juga mencoba membaginya menjadi bagian kecil agar tidak terasa berat. Pelan-pelan saya mulai belajar mengerjakan tugas sedikit demi sedikit supaya tidak menumpuk. Walaupun belum sempurna, kebiasaan membuat rencana harian cukup membantu saya agar tidak terlalu kewalahan.
2. Pikiran yang Kacau Karena Tekanan Akademik dan Proses Adaptasi
Masalah kedua muncul ketika beban tugas yang banyak mulai mengganggu ketenangan
pikiran saya. Kepala saya sering terasa penuh, sulit fokus, dan dipenuhi banyak
kekhawatiran. Saya takut tidak bisa mengikuti materi, takut tidak bisa bersaing
dengan teman lain, bahkan takut mengecewakan orang tua jika nilai saya tidak
seperti yang diharapkan. Tekanan seperti ini membuat saya mudah lelah dan cepat
stres.
Selain itu, proses adaptasi juga cukup menguras tenaga. Saya harus
menyesuaikan diri dengan lingkungan baru, teman baru, dan kebiasaan baru.
Kampus menuntut saya untuk lebih mandiri, sementara saya masih belajar
menyesuaikan ritme. Perubahan yang tiba-tiba ini membuat saya cepat merasa
tertekan dan emosional.
Untuk mengatasi hal ini, saya mulai belajar memberi waktu untuk
diri sendiri. Saya menyadari bahwa memaksakan diri terus belajar malah bikin
pikiran makin kacau. Terkadang saya memilih berhenti sebentar, menarik napas
panjang, mendengarkan musik, atau sekadar berjalan sebentar untuk menjernihkan
kepala. Saya juga mencoba lebih terbuka dengan orang-orang terdekat tentang
perasaan saya. Dengan bercerita, beban yang saya rasakan sedikit berkurang.
Saya pun mulai memperbaiki pola tidur dan makan supaya tubuh saya tetap kuat
menghadapi rutinitas yang padat.
3. Tidak Sengaja Membentak Orang Tua Karena Emosi Tidak Stabil
Masalah ketiga adalah hal yang paling membuat saya menyesal. Ada satu momen
ketika saya benar-benar lelah dan pikiran saya penuh. Saat itu, orang tua saya
hanya bertanya hal biasa, tetapi karena kondisi mental saya sudah kacau, saya
malah menjawab dengan nada tinggi. Padahal mereka hanya ingin memastikan saya
baik-baik saja. Setelah kejadian itu, saya merasa sangat bersalah karena saya
sadar bahwa kemarahan saya sebenarnya bukan ditujukan kepada mereka, melainkan
dampak dari stres yang saya pendam.
Untuk memperbaiki situasi ini, saya mencoba lebih sadar dengan
kondisi emosi saya sendiri. Jika saya sedang tidak stabil, saya berusaha
menahan diri dan memberi jeda sebelum berkata-kata. Saya juga meminta maaf
kepada orang tua dan menjelaskan bahwa saya sedang dalam tekanan karena tugas
dan penyesuaian di kampus. Setelah saya jelaskan, mereka lebih memahami kondisi
saya. Komunikasi seperti ini membuat hubungan kami lebih baik dan mencegah
kesalahpahaman terjadi lagi.
Awal menjadi mahasiswa baru memang bukan hal yang mudah untuk saya.
Banyak hal yang datang bersamaan dan membuat kepala saya penuh. Saya masih
belajar memperbaiki diri, mengatur waktu, mengelola pikiran, dan menjaga emosi.
Meski perjalanan ini cukup berat, saya percaya bahwa pelan-pelan saya akan
terbiasa dan lebih kuat dalam menjalani hari-hari berikutnya. Yang penting,
saya terus mencoba memahami diri sendiri dan mencari cara agar tidak tenggelam
dalam tekanan yang saya hadapi.
Comments
Post a Comment